whatsapp-logo

Pelanggan yang terhormat, selamat datang di Greenlab Indonesia. Ada yang bisa kami bantu? Yuk konsultasikan kebutuhan pengujian lingkungan Anda. Kami tunggu yaa 😊🙏🏻

Yuk Konsultasikan!

environesia-image

Stay Update,

Stay Relevant

Greenlab’s Timeline

kunjungan kan

Mengapa Oksigen di Lautan Berkurang? Mengenal Fenomena Deoksigenasi Laut

Greenlab Indonesia

Monday, 23 Feb 2026

Lautan selama ini dikenal sebagai “paru-paru kedua” Bumi. Selain menyerap lebih dari 90% kelebihan panas akibat pemanasan global, laut juga menjadi rumah bagi jutaan spesies yang bergantung pada ketersediaan oksigen terlarut. Namun dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan menemukan tren yang mengkhawatirkan: kadar oksigen di lautan terus menurun. Fenomena ini dikenal sebagai deoksigenasi laut.

Apa Itu Deoksigenasi Laut?

Deoksigenasi laut adalah kondisi ketika kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) di perairan laut menurun secara signifikan dalam jangka panjang. Oksigen terlarut sangat penting bagi kehidupan laut, mulai dari ikan, plankton, hingga organisme dasar laut.

Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change, perubahan iklim berperan besar dalam mempercepat penurunan kadar oksigen di lautan global. Sementara itu, kajian dari International Union for Conservation of Nature menunjukkan bahwa sejak pertengahan abad ke-20, laut telah kehilangan sekitar 2% kandungan oksigennya secara global, angka yang terlihat kecil, tetapi berdampak besar bagi ekosistem.

Mengapa Oksigen di Lautan Berkurang?

Penurunan oksigen laut tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada beberapa faktor utama yang saling berkaitan.

1. Pemanasan Global

Kenaikan suhu global akibat emisi gas rumah kaca membuat suhu permukaan laut meningkat. Air yang lebih hangat memiliki kemampuan lebih rendah untuk melarutkan oksigen dibandingkan air dingin.

Selain itu, pemanasan memperkuat stratifikasi laut yaitu kondisi ketika lapisan permukaan yang hangat sulit bercampur dengan lapisan dalam yang lebih dingin. Akibatnya, suplai oksigen ke perairan dalam menjadi terbatas.

Fenomena ini berkaitan erat dengan perubahan iklim yang dipantau secara global, termasuk oleh National Oceanic and Atmospheric Administration.

2. Eutrofikasi Akibat Limbah Nutrien

Limbah pertanian, peternakan, dan domestik membawa nutrien seperti nitrogen dan fosfor ke laut. Nutrien berlebih memicu ledakan populasi alga (algal bloom).

Ketika alga mati dan terurai, proses dekomposisi oleh bakteri mengonsumsi oksigen dalam jumlah besar. Hasilnya adalah zona dengan kadar oksigen sangat rendah, yang dikenal sebagai dead zone.

Salah satu contoh paling terkenal adalah zona mati di Teluk Meksiko yang dipantau oleh National Oceanic and Atmospheric Administration setiap tahun.

3. Perubahan Sirkulasi Laut

Perubahan pola angin dan arus laut akibat pemanasan global memengaruhi distribusi oksigen. Di beberapa wilayah, suplai oksigen dari permukaan ke kedalaman laut menjadi lebih lambat.

Wilayah dengan oksigen rendah yang sebelumnya terbatas kini semakin meluas, terutama di kawasan tropis dan subtropis.

Dampak Deoksigenasi Laut terhadap Ekosistem

Penurunan oksigen bukan sekadar angka statistik. Dampaknya nyata dan luas.

1. Migrasi dan Kematian Ikan

Ikan dan organisme laut membutuhkan kadar oksigen minimum untuk bertahan hidup. Ketika kadar oksigen turun, mereka terpaksa bermigrasi ke wilayah lain atau mengalami stres fisiologis yang dapat berujung pada kematian massal.

Hal ini berpotensi mengganggu sektor perikanan dan ketahanan pangan, terutama bagi negara pesisir.

2. Gangguan Rantai Makanan

Spesies yang sensitif terhadap kadar oksigen rendah akan lebih dulu terdampak. Ketidakseimbangan ini mengubah struktur komunitas laut dan rantai makanan.

Dalam jangka panjang, deoksigenasi dapat mengurangi keanekaragaman hayati laut secara signifikan.

3. Peningkatan Produksi Gas Rumah Kaca

Menariknya, perairan dengan oksigen rendah dapat menghasilkan gas rumah kaca seperti dinitrogen oksida (N₂O), yang memperburuk perubahan iklim. Ini menciptakan lingkaran umpan balik yang mempercepat krisis iklim global.

Mengapa Deoksigenasi Laut Penting bagi Manusia?

Laut bukan hanya habitat satwa, tetapi juga penopang ekonomi dan sumber protein bagi miliaran orang. Penurunan oksigen dapat memengaruhi:

  • Produksi perikanan tangkap

  • Stabilitas ekonomi pesisir

  • Ketahanan pangan global

  • Keseimbangan iklim Bumi

Dengan kata lain, deoksigenasi laut adalah isu lingkungan sekaligus isu sosial dan ekonomi.

Apakah Deoksigenasi Laut Bisa Dicegah?

Kabar baiknya, fenomena ini masih dapat diperlambat jika tindakan dilakukan secara global dan lokal. Beberapa langkah kunci meliputi:

  • Mengurangi emisi gas rumah kaca

  • Mengendalikan limpasan nutrien dari sektor pertanian

  • Meningkatkan pengelolaan limbah

  • Melindungi ekosistem pesisir seperti mangrove dan lamun

Upaya kolektif untuk menekan perubahan iklim akan berdampak langsung pada stabilitas kadar oksigen laut.

Deoksigenasi laut adalah ancaman nyata yang sering luput dari perhatian publik. Pemanasan global, eutrofikasi, dan perubahan sirkulasi laut menjadi penyebab utama berkurangnya oksigen di lautan. Jika tidak ditangani, dampaknya dapat meluas dari ekosistem laut hingga kehidupan manusia. Memahami fenomena ini adalah langkah awal untuk mendorong kebijakan dan tindakan yang lebih berkelanjutan.

Discover compassionate service

that exceeds expectations.

Bersama Greenlab Indonesia, mari bangun

Indonesia dengan lingkungan yang lebih baik,

secara terukur, teratur, dan terorganisir.

model-6