Kenapa Musim di Indonesia Makin Sulit Ditebak? Ini Penjelasan dan Dampaknya
Greenlab Indonesia
Thursday, 18 Jun 2026
Dulu, ada patokan yang hampir semua orang tahu: sekitar April–September itu musim kemarau, Oktober–Maret musim hujan. Petani menanami sawah berdasarkan itu. Nelayan membaca angin musim untuk menentukan kapan aman melaut. Orang biasa pun bisa kira-kira kapan harus menyimpan payung dan kapan boleh melupakannya.
Sekarang? Hujan deras bisa datang di tengah musim kemarau. Kemarau bisa berlanjut lebih lama dari biasanya lalu tiba-tiba berakhir dengan banjir besar. Di beberapa daerah, orang sudah tidak lagi bisa mengandalkan kalender musim untuk merencanakan apa pun.
Bukan perasaan. Ini tren yang tercatat oleh data resmi selama puluhan tahun dan dampaknya sudah nyata dirasakan oleh puluhan juta orang Indonesia dari petani di Jawa hingga nelayan di Sulawesi.
1. Ini Bukan Sekadar "Cuaca Tidak Menentu"
Ada perbedaan penting antara cuaca dan iklim. Cuaca adalah kondisi atmosfer hari ini atau minggu ini: hujan atau cerah, panas atau sejuk. Iklim adalah rata-rata pola cuaca dalam jangka panjang, biasanya dihitung selama 30 tahun.
Perubahan iklim bukan berarti setiap hari lebih panas dari kemarin. Artinya, pola rata-rata jangka panjang itu sendiri yang bergeser. Dan ketika pola jangka panjang berubah, semua yang bergantung pada pola itu, termasuk pertanian, sumber air, kesehatan masyarakat, dan sistem peringatan bencana, ikut terganggu.
Di Indonesia, pergeseran itu sudah terdokumentasi dengan jelas oleh BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika).
2. Apa Kata Data BMKG?
BMKG memiliki rekam jejak pengamatan iklim sejak 1981. Beberapa temuan penting dari data tersebut:
Suhu Terus Naik
Berdasarkan data dari 117 stasiun pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata periode 1991–2020 di Indonesia sebesar 26,7°C. Pada tahun 2024, suhu rata-rata nasional mencapai 27,52°C, dengan anomali sebesar +0,8°C. Tahun 2024 menempati urutan pertama sebagai tahun terpanas di Indonesia dalam seluruh periode pengamatan sejak 1981.
Untuk konteks: suhu rata-rata global tahun 2024 juga telah melampaui ambang batas 1,5°C di atas tingkat pra-industri, angka yang menjadi batas kritis dalam Perjanjian Paris yang disepakati secara global.
Curah Hujan Ekstrem Makin Sering
Tren hujan ekstrem menunjukkan eskalasi yang signifikan. Curah hujan di atas 150 milimeter per hari kini semakin sering terjadi, bahkan pada beberapa kejadian mencapai 300 hingga 400 milimeter per hari.
Sementara itu, data BMKG periode 1981–2024 juga mencatat tren peningkatan pada jumlah hari hujan dengan intensitas sangat tinggi (>100mm/hari) secara nasional — fenomena yang sebelumnya jarang terjadi.
Bencana Hidrometeorologi Mendominasi
Bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan kini mendominasi lebih dari 90 persen kejadian bencana nasional. Data BMKG dalam kurun waktu 16 tahun terakhir (2010–2025) menunjukkan tren peningkatan kejadian banjir dan tanah longsor yang terus meningkat, dengan wilayah kejadian tertinggi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh, dan sejumlah wilayah lain di Sumatera.
| Indikator Iklim | Tren yang Teramati | Periode Pengamatan |
|---|---|---|
| Suhu rata-rata tahunan | Naik, tahun 2024 tertinggi: 27,52°C | 1981–2024 (BMKG) |
| Anomali suhu 2024 | +0,8°C dari normal 1991–2020 | Data 117 stasiun BMKG |
| Curah hujan ekstrem >150mm/hari | Frekuensi meningkat signifikan | 2010–2024 |
| Bencana hidrometeorologi | >90% total kejadian bencana nasional | 2010–2025 |
| Suhu global 2024 | +1,55°C dari era pra-industri | WMO, 2024 |
3. Dua Fenomena yang Paling Sering Disalahkan: El Niño dan La Niña
Saat orang Indonesia mendengar musim kacau, dua nama ini yang sering disebut. Tapi apa sebenarnya keduanya?
El Niño adalah kondisi di mana suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur lebih hangat dari normal. Ini menggeser pola angin dan curah hujan secara global. Bagi Indonesia, El Niño umumnya berarti musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya.
La Niña adalah kebalikannya — suhu laut Pasifik lebih dingin dari normal — dan bagi Indonesia ini biasanya berarti curah hujan lebih tinggi dari normal, meningkatkan risiko banjir.
Yang berubah bukan sekadar kemunculan El Niño dan La Niña. Kedua fenomena ini memang sudah ada sebelum perubahan iklim. Yang berubah adalah intensitasnya semakin kuat, frekuensi peristiwa ekstremnya meningkat, dan pola musiman yang dulu membantu memprediksi dampaknya kini menjadi jauh lebih tidak stabil.
Pada akhir Juli 2023, BMKG mencatat 63% wilayah di Indonesia sudah terdampak El Niño, yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan di banyak daerah dan berdampak serius pada sektor pertanian.
4. Dampak Nyata: Siapa yang Paling Terpukul?
Petani
BMKG sendiri menegaskan bahwa pertanian merupakan sektor yang mengalami dampak paling serius akibat perubahan iklim. Tidak hanya intensitas hujan yang sangat rendah, beberapa daerah diperkirakan mengalami kekeringan yang cukup ekstrem, dengan curah hujan yang biasanya berkisar 20 mm per hari bisa menjadi sebulan sekali atau bahkan tidak ada sama sekali saat puncak kemarau.
Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa produksi padi dapat menurun hingga 20–30% pada tahun-tahun dengan intensitas kekeringan tinggi. Dan efeknya tidak berhenti di lahan: gagal panen berdampak langsung pada harga pangan, pasokan ke kota, dan pendapatan petani kecil yang tidak punya cadangan.
Sebanyak 98,7 persen petani yang terlibat dalam survei terbaru menyatakan bahwa dampak perubahan iklim semakin terasa dalam kehidupan mereka: kekeringan, musim yang semakin tidak menentu, curah hujan yang menurun, dan suhu panas ekstrem merupakan kejadian yang paling banyak dialami.
Nelayan
Perubahan suhu laut mempengaruhi distribusi dan pola migrasi ikan. Ketika suhu permukaan laut berubah, lokasi tangkapan ikan bergeser. Nelayan yang sudah puluhan tahun mengenal pola musim ikan di perairan tertentu mendapati bahwa pengetahuan itu tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya.
Masyarakat Perkotaan dan Pesisir
Banjir rob (genangan akibat pasang laut yang semakin tinggi) kini menjadi ancaman reguler di kota-kota pesisir seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Ini bukan hanya soal hujan deras, tapi juga naiknya muka air laut yang membuat drainase perkotaan tidak lagi mampu mengatasi volume air yang datang bersamaan.
Kualitas Air dan Lingkungan
Perubahan iklim juga berdampak langsung pada kualitas lingkungan yang lebih sering luput dari perhatian:
| Dampak Perubahan Iklim | Implikasi pada Kualitas Lingkungan |
|---|---|
| Kemarau panjang | Debit sungai menurun, konsentrasi polutan meningkat, kualitas air sungai memburuk |
| Banjir & hujan ekstrem | Limpasan membawa kontaminan dari permukaan ke badan air, sumur-sumur tercemar air banjir |
| Suhu air meningkat | Oksigen terlarut (DO) menurun, ekosistem perairan terganggu, potensi eutrofikasi meningkat |
| Karhutla saat El Niño | Lonjakan PM2.5 dan polutan udara ambien jauh melampaui baku mutu, terutama di Sumatera dan Kalimantan |
| La Niña (curah hujan berlebih) | Erosi tanah, sedimentasi, dan aliran lindi dari area pertambangan/industri ke badan air meningkat |
5. Apa Respons Pemerintah? Regulasi dan Komitmen Indonesia
Indonesia tidak diam menghadapi krisis iklim. Ada sejumlah regulasi dan komitmen resmi yang sudah ditetapkan:
Undang-Undang No. 16 Tahun 2016 — Ratifikasi Perjanjian Paris Ini adalah dasar hukum tertinggi komitmen Indonesia terhadap perubahan iklim. Indonesia secara resmi mengikatkan diri pada tujuan Perjanjian Paris, yaitu membatasi kenaikan suhu global di bawah 2°C (dan berupaya di bawah 1,5°C) dibandingkan era pra-industri.
Perpres No. 98 Tahun 2021 — Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan NDC Melalui regulasi ini, Indonesia menetapkan target NDC (Nationally Determined Contribution): menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 31,89% dengan kemampuan sendiri, atau hingga 41% dengan dukungan internasional, pada tahun 2030. Indonesia juga menargetkan Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Yang penting bagi dunia usaha: berdasarkan Pasal 69 Perpres No. 98/2021, setiap Pelaku Usaha wajib mencatatkan dan melaporkan pelaksanaan Aksi Mitigasi Perubahan Iklim, Aksi Adaptasi Perubahan Iklim, dan Sumber Daya Perubahan Iklim pada Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI). Ini bukan sekadar imbauan, melainkan kewajiban hukum bagi pelaku usaha.
PP No. 22 Tahun 2021 — Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Regulasi ini mewajibkan pemantauan kualitas lingkungan secara berkala (air, udara, tanah) sebagai bagian dari implementasi dokumen lingkungan (AMDAL/UKL-UPL). Pemantauan lingkungan yang konsisten juga menjadi salah satu instrumen untuk memahami perubahan kondisi lingkungan yang dipicu oleh perubahan iklim di tingkat lokal.
Target NDC Indonesia (Ringkasan)
| Sektor | Kontribusi Mitigasi |
|---|---|
| Kehutanan dan penggunaan lahan | Terbesar — pencegahan deforestasi, rehabilitasi hutan |
| Energi | Transisi ke energi terbarukan, efisiensi energi |
| Pertanian | Pengelolaan lahan dan praktik pertanian rendah emisi |
| Industri | Efisiensi proses dan pengurangan emisi industri |
| Limbah | Pengelolaan sampah dan air limbah yang lebih baik |
6. Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Perubahan iklim adalah masalah struktural yang butuh respons di banyak tingkatan. Tapi bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan di level yang lebih dekat dengan keseharian kita:
Untuk Masyarakat Umum
- Pantau informasi iklim dan cuaca melalui BMKG sebelum membuat rencana besar (tanam, berlayar, acara luar ruangan)
- Kurangi pembakaran sampah dan biomassa terbuka, terutama di musim kemarau
- Hemat air secara konsisten, bukan hanya saat kemarau tiba
- Pilih produk dan layanan dari bisnis yang memiliki komitmen lingkungan terukur
Untuk Petani dan Pelaku Pertanian
- Ikuti informasi prakiraan musim dari BMKG (tersedia gratis di situs iklim.bmkg.go.id)
- Pertimbangkan diversifikasi varietas dan jadwal tanam berdasarkan prakiraan ENSO dan IOD
- Investasi pada teknik konservasi air untuk menghadapi musim kemarau yang makin panjang
Untuk Pelaku Usaha dan Industri
- Lakukan penilaian risiko iklim terhadap operasional bisnis, terutama yang bergantung pada sumber daya air atau kondisi cuaca
- Penuhi kewajiban pelaporan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sesuai Perpres No. 98/2021
- Pastikan pemantauan kualitas lingkungan (air sungai, air baku, udara ambien) dilakukan secara berkala, terutama pada periode ekstrem seperti puncak El Niño atau La Niña
Musim yang sulit ditebak bukan sekadar ketidaknyamanan. Ia adalah sinyal nyata bahwa sistem iklim yang selama ini menjadi fondasi kehidupan pertanian, ketersediaan air, dan ketahanan pangan sedang berubah dengan cepat. Dan tidak seperti bencana yang datang tiba-tiba, perubahan iklim bekerja perlahan tapi konsisten, menggeser patokan yang sudah kita andalkan selama generasi.
Memahami apa yang sedang terjadi adalah langkah pertama. Langkah berikutnya adalah adaptasi yang nyata: mulai dari cara bertani, cara mengelola sumber air, cara merancang infrastruktur kota, hingga cara dunia usaha mengukur dan mengelola dampak lingkungannya. Semakin cepat adaptasi dimulai, semakin kecil biaya yang harus ditanggung di masa depan.