Apa Itu BOD dan COD dalam Pengujian Air?
Greenlab Indonesia
Tuesday, 28 Oct 2025
Dalam pengujian kualitas air, dua parameter yang paling sering digunakan untuk menilai tingkat pencemaran organik adalah BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand).
Keduanya menjadi indikator penting untuk mengetahui seberapa besar kandungan bahan organik dalam air limbah atau air alami yang bisa memengaruhi kualitas lingkungan perairan.
Lalu, apa sebenarnya BOD dan COD, bagaimana cara mengukurnya, dan apa perbedaan di antara keduanya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu BOD (Biochemical Oxygen Demand)?
BOD (Biochemical Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik yang ada di dalam air selama periode tertentu, biasanya 5 hari pada suhu 20°C (BOD₅).
Nilai BOD menunjukkan tingkat pencemaran biologis semakin tinggi nilai BOD, semakin banyak bahan organik yang dapat terurai oleh mikroorganisme, artinya air tersebut semakin tercemar.
Contoh Kasus:
Air limbah domestik atau industri makanan biasanya memiliki nilai BOD tinggi karena mengandung banyak sisa bahan organik seperti lemak, protein, dan karbohidrat.
Apa Itu COD (Chemical Oxygen Demand)?
COD (Chemical Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi seluruh bahan organik (baik yang dapat diuraikan secara biologis maupun tidak) menggunakan oksidator kimia kuat seperti kalium dikromat (K₂Cr₂O₇) dalam kondisi asam.
Nilai COD memberikan gambaran total beban bahan organik dalam air, termasuk zat-zat yang tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme.
Oleh karena itu, nilai COD biasanya lebih tinggi dari BOD.
Perbedaan BOD dan COD
| Aspek | BOD (Biochemical Oxygen Demand) | COD (Chemical Oxygen Demand) |
|---|---|---|
| Metode Pengujian | Menggunakan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik | Menggunakan bahan kimia pengoksidasi (misalnya dikromat) |
| Waktu Uji | Biasanya 5 hari (BOD₅) | Sekitar 2–3 jam |
| Jenis Bahan Organik yang Terukur | Hanya bahan organik yang bisa terurai secara biologis | Semua bahan organik, termasuk yang sulit terurai |
| Nilai Umum | Lebih rendah dari COD | Lebih tinggi dari BOD |
| Kegunaan | Menilai potensi pencemaran biologis | Menilai total beban bahan organik secara cepat |
Mengapa BOD dan COD Penting dalam Pengujian Air?
-
Menentukan Tingkat Pencemaran Air
Nilai BOD dan COD membantu menentukan sejauh mana air limbah dapat mencemari sungai, danau, atau laut. -
Menilai Efektivitas Pengolahan Air Limbah
Pengukuran BOD dan COD dilakukan sebelum dan sesudah proses pengolahan air limbah untuk mengevaluasi efektivitas sistem pengolahan. -
Mendukung Kepatuhan terhadap Regulasi Lingkungan
Pemerintah, melalui regulasi seperti Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PermenLHK) No. 68 Tahun 2016, menetapkan batas maksimum BOD dan COD untuk air limbah industri. -
Menjaga Keseimbangan Ekosistem Perairan
Kadar BOD dan COD yang tinggi dapat menyebabkan penurunan oksigen terlarut (DO), yang berpotensi membunuh biota air seperti ikan dan plankton.
Batas Normal BOD dan COD dalam Air
Secara umum, nilai ambang batas BOD dan COD berbeda tergantung pada jenis air dan penggunaannya:
| Jenis Air | BOD (mg/L) | COD (mg/L) |
|---|---|---|
| Air Minum | < 2 | < 10 |
| Air Permukaan (sungai/danau) | < 3 | < 25 |
| Air Limbah Domestik | < 100 | < 250 |
| Air Limbah Industri (tergantung jenis industri) | 30–150 | 80–300 |
Nilai di atas dapat bervariasi sesuai peraturan dan kebijakan lingkungan yang berlaku.
Hubungan antara BOD, COD, dan DO
Ketiga parameter ini saling berkaitan dalam menentukan kualitas air:
-
BOD: kebutuhan oksigen biologis
-
COD: kebutuhan oksigen kimia
-
DO (Dissolved Oxygen): jumlah oksigen terlarut dalam air
Jika nilai BOD dan COD tinggi, biasanya DO akan rendah, menandakan kondisi perairan yang tercemar dan tidak sehat bagi kehidupan akuatik.
Baik BOD maupun COD merupakan parameter utama dalam analisis kualitas air, terutama untuk memantau tingkat pencemaran organik.
Perbedaannya terletak pada metode pengukuran dan jenis bahan organik yang diukur.
Dengan memahami kedua parameter ini, kita dapat mengetahui seberapa tercemar air dan menentukan langkah pengolahan yang tepat untuk menjaga lingkungan tetap lestari.