Our Location

Yogyakarta, Indonesia

Operational

Mon - Fri, 08:00am - 05:00pm

Contact Us

0822-8888-0602 / (0274) 880603 ext. 3

Pengelolaan Sampah Di Yogyakarta – Apa Permasalahannya?

Pengelolaan Sampah

Data Potensi Timbulan Sampah Yogyakarta


Sampah dan limbah adalah permasalahan nasional di bidang lingkungan. Pengelolaan sampah yang sudah dilakukan belum berjalan dengan efektif. Menurut data Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2018 dari Badan Pusat Statistik (BPS), masalah persampahan sangat berkaitan dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan perubahan pola konsumsi masyarakat.


Pada tahun 2017, jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 261,89 juta jiwa. Angka ini meningkat dibanding tahun 2000 sebesar 206,26 juta jiwa. Tren pertumbuhan ekonomi juga terus mengalami peningkatan, dengan kontribusi terbesar dari sektor manufaktur. Produk Domestik Bruto yang dihasilkan sektor ini di 2017 sebesar 2.739,4 triliun, meningkat dari tahun 2000 sebesar 385,5 triliun. Pertumbuhan pesat di sektor industri merupakan imbas dari meningkatnya pendapatan rumah tangga dan makin beragamnya pola serta jenis konsumsi masyarakat. Kondisi tersebut menimbulkan bertambahnya volume, beragamnya jenis, dan karakteristik sampah dan limbah. Bahkan menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2016, jumlah timbulan sampah di Indonesia sudah mencapai 65,2 juta ton pertahun.


Secara lebih spesifik, D.I. Yogyakarta (DIY) juga merupakan salah satu wilayah Indonesia yang memiliki masalah terkait pengelolaan sampah. Menurut data BPS pada 2017, jumlah penduduk di DIY yang terdaftar adalah sebanyak 3.762.200 jiwa. Jumlah ini belum termasuk penduduk tidak tetap, seperti para mahasiswa dan tenaga kerja dari luar DIY. Semakin banyak penduduk, maka semakin banyak pula timbulan sampah yang dihasilkan. Berdasarkan data dari Bappeda Provinsi D.I. Yogyakarta, volume produksi sampah di Yogyakarta pada tahun 2018 adalah sebesar 659,69 ton/hari. Hal ini setara dengan 1866 m3/hari, sementara kisaran volume sampah yang ditangani hanya sebesar 589,8 ton/hari. Artinya, total potensi timbulan sampah yang tidak terolah di Yogyakarta adalah sekitar 70 ton/hari yang setara dengan 70 m3/hari.


Kondisi Pengelolaan Sampah di Yogyakarta


Menurut jurnal KEMAS Unnes (2016), cakupan pelayanan publik di bidang persampahan yang dilakukan oleh BLH Kota Yogyakarta baru mencapai 85%. Artinya, pengelolaan sampah di wilayah Yogyakarta masih belum maksimal. Dengan potensi timbulan sampah sebanyak itu, jumlah TPA di Yogyakarta menurut data Bappeda DIY hanyalah 3 unit. Dimana mayoritas sampah dari Provinsi DIY berakhir di TPA Piyungan, Kabupaten Bantul.


Masih menurut data dari Jurnal Kesehatan Masyarakat (KEMAS Unnes) tahun 2016 tentang analisis situasi permasalahan sampah Yogyakarta, alur pengelolaan sampah di Yogyakarta bermula dari penarikan retribusi dan pengumpulan sampah dari sumber, pengangkutan sampah dari sumber menuju TPS sampah, dan pengangkutan sampah dari TPS ke TPA Piyungan oleh puluhan truk atau kendaraan pengakut sampah lain yang beroperasi di tiga daerah (Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul). Hasil analisis dari penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa volume sampah terbanyak dihasilkan oleh Kota Yogyakarta diikuti oleh Kabupaten Sleman, dan Bantul.


Masalah Terkait Pengelolaan Sampah di Yogyakarta


Tingginya volume timbulan sampah yang tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah serta ketiadaan penambahan TPS/TPA dan/atau sarana pengelolaan sampah lainnya, menyebabkan timbulnya masalah-masalah lingkungan dan sosial di DIY. Beberapa diantaranya adalah TPA Piyungan yang mengalami overload kapasitas, masalah estetika, hingga gangguan kesehatan warga sekitar TPA Piyungan.


Masalah-masalah ini menunjukkan pengelolaan sampah D.I. Yogyakarta yang tidak maksimal. Puncaknya, pada akhir Maret 2019 TPA Piyungan di Bantul sempat ditutup dan diblokade oleh warga karena merasa lingkungannya terganggu, akibat akses jalan dan kesehatan warga sekitar tidak diperhatikan. Belum termasuk masalah potensi pencemaran udara, tanah, dan air tanah di sekitar wilayah TPA. Hal ini disebabkan karena TPA Piyungan sudah mengalami over capacity, padahal seharusnya di tahun 2019 ini, TPA Piyungan sudah berhenti beroperasi karena usia teknisnya sudah habis. Secara lebih jauh, dampak yang lebih luas dari aksi blokade TPA Piyungan oleh warga yaitu menumpuknya timbulan sampah di area-area tertentu di Yogyakarta, antara lain di pasar, TPS, perumahan, bahkan di depan fasilitas umum seperti stasiun.


Pada dasarnya, walaupun problematika sampah juga disebabkan oleh pertambahan penduduk, pola konsumsi yang tinggi, tingkat pelayanan sampah yang terbatas, kepastian hukum yang kurang tegas, dan keterbatasan dana serta fasilitas, namun paradigma dan perilaku masyarakat yang menganut konsep kumpul-angkut-buang tanpa pengolahan lebih lanjut juga merupakan salah satu faktor utama penyebab tingginya timbulan sampah. Oleh karena itu, selain berfokus pada perbaikan pengelolaan sampah, kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah juga perlu diperbaiki dan ditingkatkan.

Okay, I am pretty sure to team up with GreenLab Indonesia.

About Us

GreenLab Indonesia as a leading of Environmental and Industrial Hygiene Laboratory Testing Services among the best in Indonesia has a strong commitment delivering only the excellent services to all of our valued customers.

For us in GreenLab, treating customers with empathy and urgency in serving their needs and goals should not be compromised.

Get In Touch With Us !

Find Us.

Grha Environesia 1st Floor Jl. Kaliurang KM 15, Degolan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55584

Call Us.

+62 274 880 603 ext 3

Chat Us.

+62 822 8888 0602

Email Us.

info@greenlab.co.id

environmental and industrial hygiene
laboratory expert

Halo, Saya Ula dari GreenLab, ada yang bisa saya bantu?
Powered by