Our Location

Yogyakarta, Indonesia

Operational

Mon - Fri, 08:00am - 05:00pm

Contact Us

0822-8888-0602 / (0274) 880603 ext. 3

Indeks Kualitas Udara dan Hotspot Pulau Sumatera – Bagaimana Perkembangannya?

Indeks Kualitas Udara

Pencemaran udara merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh beberapa wilayah di dunia, termasuk Indonesia. Menurut analisis Jurnal Kapita Selekta Geografi (2019), kebakaran hutan luas yang melanda Provinsi Riau telah memberi dampak buruk terhadap kualitas lingkungan, terutama indeks kualitas udara di wilayah sekitarnya, khususnya area Pulau Sumatera.


Masih menurut Jurnal Kapita Selekta Geografi, kecenderungan penurunan kualitas udara di Indonesia telah terlihat dalam beberapa dekade terakhir. Penurunan ini dibuktikan dengan data hasil pemantauan khususnya partikel (PM10, PM2.5) dan oksidan/ozon (O3) yang semakin meningkat. Selain itu kebutuhan akan lahan, transportasi dan energi semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk.


Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK (2017), peningkatan penggunaan lahan, transportasi dan konsumsi energi akan meningkatkan pencemaran udara yang akan berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan penyusunan dan penghitungan indeks kualitas udara yang ditujukan untuk:

  1. Sebagai pelaporan kualitas udara yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan informasi yang mudah dipahami kepada masyarakat tentang kondisi kualitas udara; dan
  2. Sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan pengelolaan kualitas udara yang tujuannya melindungi manusia dan ekosistem. Indeks kualitas udara ini pada umumnya dihitung berdasarkan lima pencemar utama yaitu oksidan/ozon di permukaan, bahan partikel, karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO) dan nitrogen dioksida (NO).

Indeks Kualitas Udara Pulau Sumatera Dari Tahun ke Tahun


Berdasarkan data dari publikasi Indeks Kualitas Lingkungan Hidup yang diterbitkan oleh Kementerian LHK berturut-turut dari tahun 2014 hingga 2017, diperoleh data Indeks Kualitas Udara di Pulau Sumatera dari tahun ke tahun. Berikut perkembangan Indeks Kualitas Udara (IKU) di Pulau Sumatera sejak tahun 2014 hingga 2014 berdasarkan data KLHK:

1. IKU Pulau Sumatera Tahun 2014

Pada tahun 2014, nilai IKU provinsi tertinggi di Pulau Sumatera terdapat pada Provinsi Kepulauan Riau. IKU Kepulauan Riau mencapai 95,53. Sedangkan provinsi yang memiliki nilai terendah adalah Provinsi Riau dengan nilai 60,3.

2. IKU Pulau Sumatera Tahun 2015

Pada tahun 2015, IKU provinsi tertinggi di Pulau Sumatera mencapai nilai 95,61 yaitu Provinsi Bangka Belitung. Sedangkan provinsi yang memiliki nilai rendah adalah Provinsi Riau dengan nilai 60,30.

3. IKU Pulau Sumatera Tahun 2016

Pada tahun 2016, nilai IKU provinsi tertinggi di Pulau Sumatera terdapat pada Provinsi Jambi dengan nilai indeks sebesar 88,1. Sedangkan provinsi yang memiliki nilai rendah adalah Provinsi Riau dengan nilai 60,30.

4. IKU Pulau Sumatera Tahun 2017

Pada tahun 2017, nilai IKU provinsi tertinggi di Pulau Sumatera terdapat pada Provinsi Kepulauan Riau. Nilai IKU yang dicapai sebesar 95,47. Sedangkan provinsi yang memiliki nilai terendah adalah Provinsi Lampung dengan nilai 85,02.


Perubahan Nilai Indeks Kualitas Udara Pulau Sumatera Tahun 2014-2017


Berdasarkan nilai yang didapatkan pada IKU Pulau Sumatera tahun 2014 dan 2017, terjadi perubahan yang cukup signifikan terhadap kualitas udara. Terutama pada provinsi-provinsi yang mengalami kasus kebakaran hutan seperti: Provinsi Riau, Provinsi Lampung, dan Provinsi Aceh. Sedangkan untuk Provinsi Sumatera Barat tidak terjadi perubahan kualitas udara yang signifikan.


Secara lebih rinci, nilai rata-rata IKU provinsi-provinsi di Pulau Sumatera dari tahun 2014-2017 adalah 86,796 (tahun 2014), 84,295 (tahun 2015), 81,24 (tahun 2016), dan 90,471 (tahun 2017). Perubahan nilai IKU pada Provinsi Sumatera Barat adalah 89,16 pada tahun 2014 menjadi 85,48 pada tahun 2016, berkurang kembali menjadi 82,9 pada tahun 2015, dan mengalami kenaikan nilai pada tahun 2017 menjadi 89,97. Pada tahun 2014-2015 hampir seluruh nilai IKU di masing-masing provinsi di Pulau Sumatera, berada pada kategori rendah (kualitas udara buruk).


Sebaran Asap dari Titik Panas (Hotspot) Pulau Sumatera


Pemantauan titik panas atau hotspot adalah salah satu upaya pengendalian kejadian bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan melakukan deteksi panas melalui bantuan satelit penginderaan jarak jauh dan sistem informasi geografis. Menurut Handayani (2014), dalam publikasi Seminar Nasional Geomatika 2018, titik panas (hotspot) merupakan indikator terjadinya kebakaran lahan di suatu lokasi yang memiliki suhu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan suhu disekitarnya. Kebakaran lahan ini dapat diidentifikasi dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh.


Berdasarkan data dari citra satelit BMKG pada 21 September 2019, terdeteksi asap di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Bengkulu, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan bahkan sampai ke Semenanjung Malaysia dan Serawak Malaysia. Berdasarkan citra satelit BMKG tersebut, wilayah sebaran asap yang berasal dari titik panas (hotspot) di pulau Sumatera ini telah menyebar hingga menimbulkan Transboundary Haze (Pencemaran Udara Lintas-Batas) ke Singapura, Semenanjung Malaysia, dan Serawak Malaysia. Penyebabnya adalah angin muson yang membawa asap ke arah timur, sehingga negara tetangga ikut terselimuti asap kebakaran hutan.


Berdasarkan data Indeks Kualitas Udara dan sebaran asap di Pulau Sumatera, jelas bahwa masalah kebakaran hutan dan lahan gambut di Pulau Sumatera adalah masalah serius yang memerlukan perhatia khusus dari pemerintah Indonesia. Selain mengakibatkan masalah kesehatan pada penduduk dan mencemari lingkungan Indonesia, asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan di pulau Sumatera juga membuat nama Indonesia di mata negara tetangga ikut tercemar. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindak lanjut oleh pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera.

Okay, I am pretty sure to team up with GreenLab Indonesia.

About Us

GreenLab Indonesia as a leading of Environmental and Industrial Hygiene Laboratory Testing Services among the best in Indonesia has a strong commitment delivering only the excellent services to all of our valued customers.

For us in GreenLab, treating customers with empathy and urgency in serving their needs and goals should not be compromised.

Get In Touch With Us !

Find Us.

Grha Environesia 1st Floor Jl. Kaliurang KM 15, Degolan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55584

Call Us.

+62 274 880 603 ext 3

Chat Us.

+62 822 8888 0602

Email Us.

info@greenlab.co.id

environmental and industrial hygiene
laboratory expert

Halo, Saya Ula dari GreenLab, ada yang bisa saya bantu?
Powered by